Mengenal Sosok Tokoh Hayam Wuruk di Nusantara

Mengenal Sosok Tokoh Hayam Wuruk di Nusantara – Belajar mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia pasti akan ditemui nama Hayam Wuruk. Raja yang berhasil mencapai kejayaannya pada masa pemerintahannya untuk Kerajaan Majapahit. Ingin mengenal lebih jauh sosok Hayam Wuruk? Coba simak artikel berikut.

Hayam Wuruk merupakan raja keempat Kerajaan Majapahit. Ia bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Masa pemerintahannya dimulai sejak tahun 1350 dan berakhir pada 1389. Nama Hayam Wuruk memiliki arti sebagai Ayam yang Terpelajar. Dari nama itulah mungkin terkabul doa-doa baik yang mengikuti selama hidupnya.

Beliau lahir dari raja ketiga, yaitu Tribhuwana Tunggadewi dengan suaminya Sri Kertawardhana atau yang dikenal sebagai Cakradhara.  Dilahirkan pada tahun 1334, menurut Kitab Negarakertagama. Ketika lahirnya Hayam Wuruk, terjadi gempa bumi dan meletusnya Gunung Kelud, serta pada waktu yang bersamaan pula Mahapatih gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Berbicara tentang keluarga, beliau memiliki satu saudara perempuan yang bernama Dyah Nertaja atau Bhre Pajang, juga seorang adik angkat yang bernama Indudewi atau Bhre Lasem.  Sedangkan permaisurinya bernama Sri Sudewi atau yang bergelar Paduka Sori. Dari pasangan tersebut lahirlah Kusumawardhani, dan memiliki satu orang putra dari selir, bernama Bhre Wirabhumi, yang menikah dengan anak dari adik angkatnya, bernama Nagarawardhani.

Ketika naik tahta, Hayam Wuruk masih berusia belia, yaitu 17 tahun. Atas alasan tersebut, perannya sebagai raja diwakilkan kepada Patih Gajah Mada. Keharusannya naik tahta pada usia muda dilandasi keinginan ibunya, penguasa ketiga Majapahit, Tribhuwana Tunggadewi, yang pada mulanya naik tahta untuk menggantikan kakaknya yang bernama Gayatri. Setelah sepeninggal Gayatri, Tribhuwana Tunggadewi merasa tidak lagi berhak menyandang gelar penguasa. Karena itulh tahta diberikan kepada putranya, Hayam Wuruk, yang saat itu masih sangat muda.

Semangatnya dan kepandaian Patihnya bersatu untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di beberapa wilayah, bahkan berhasil menaklukan negara tetangga. Kejayaan Majapahit mencapai puncaknya ketika berhasil mempersatukan wilayah Indonesia. Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada juga tercapai. Namun di balik kejayaannya tersebut, terdapat beberapa kisah yang menyedihkan, sekaligus mengandung rasa nasionalisme yang tinggi.

Pada akhir pemerintahannya, Hayam Wuruk sempat ingin meminang Dyah Pitaloka, yang berasal dari Pasundan. Namun niat baik tersebut gagal dilakukan. Ada dua versi mengenai latar belakang gagalnya pernikahan kedua belah pihak. Yang pertama ialah adanya garis keturunan yang sama antara Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka. Keduanya masih memiliki ikatan darah dari Raden Wijaya. Yang kedua ialah alasan yang dijadikan sebagai alasan terjadinya perang Bubat, yang melibatkan Pasundan dan Majapahit. Konflik tersebut dikarenakan tidak terimanya Patih Gajah Mada ketika Rajanya akan menjemput Dyah Pitaloka, yang dianggapnya sebagai wujud penyerahan diri Majapahit terhadap Pasundan. Menurut Gajah Mada, Pasundan yang harus menyerahkan Dyah Pitaloka secara langsung dengan mendatangi Kerajaan dan dianggap sebagai upeti dalam penaklukan Pasundan oleh Majapahit.

Pada tahun 1372 ibunya meninggal dan menjadi suatu titik balik bagi Majapahit. Kemudian pada tahun 1377 Majapahit mulai berdamai dengan wilayah sekitar. Pada masa pemerintahannya pula dibuatlah dua kitab, yang pertama ialah Kitab Sutasoma, yang salah satunya berisi semboyan negara yang digunakan hingga sekarang. Semboyan tersebut ialah “Bhineka Tunggal Ika” yang digubah oleh Mpu Tantular. Kemudian yang kedua merupakan Kitab Negarakertagama, yang berisi tentang kehidupan Majapahitdalam masa pemerintahan Hayam Wuruk, berisi bagaimana kehidupan sosial, sejarah, raja-raja, serta wilayah kekuasaan Majapahit.

Dari kisah dan kehidupannya itulah beliau dikenal sebagai tokoh yang bersejarah bagi Indonesia. Selain semboyan yang digunakan, keinginannya untuk mempersatukan Indonesia juga dapat diteladani sebagai tokoh dalam sejarah.

Sejarah Kerajaan Singasari di Nusantara Yang Wajib Diketahui

Sejarah Kerajaan Singasari di Nusantara Yang Wajib Diketahui – Kerajaan Singasari merupakan salah satu kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Pulau Jawa. Sebagai salah satu kerajaan yang besar di Indonesia, Kerajaan ini patut jika dikenal oleh banyak orang dan dipelajari siswa dan kalangan lainnya untuk mempelajari sejarahnya. Berikut merupakan sejarah Singasari yang wajib diketahui.

Kerajaan Singasari atau yang pada awalnya dikenal dengan Kerajaan Tumapel ini didirikan oleh Ken Arok. Kerjaan ini lahir pada tahun 1222, ketika penguasa di daerah tersebut, yang bernama Tunggul Ametung dibunuh oleh pengikutnya, yaitu Ken Arok. Nama kerajaan diambil dari nama daerah kekuasaan sebelumnya, namun lebih dikenal dengan sebutan Singasari, hingga sekarang setelah runtuh.

Pembunuhan yang dilakukan oleh Ken Arok didasari oleh keinginan Ken Arok untuk mendapatkan Ken Dedes. Yang ketika itu sudah menjadi istri dari Tunggul Ametung. Ketika menjadi istri Tunggul Ametung, Ken Dedes tidak mencintai suminya karena dirinya diculik dan dinikahi secara paksa oleh sang suami. Bahkan atas penculikan yang terjadi, ayah dari Ken Dedes menyumpahi lelaki yang membawa putrinya akan mati ditikam keris. Dan sumpah tersebut terjadi menjad kenyataan ketika Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok menggunakan keris, ketika Ken Arok menginginkan Ken Dedes menjad istrinya. Tujuan Ken Arok menikahi Ken Dedes selain saling mencinta ialah agar dapat menjadi penguasa yang besar, karena ia meyakini bahwa Ken Dedes merupakan titisan dari Nareswari atau wanita yang utama di dalam ajaran yang diyakininya.

Pernikahan antara Ken Arok dan Ken Dedes dilakukan dengan damai tanpa ada yang berani menentang. Padahal pada kenyataannya, Ken Dedes sedang mengandung putra dari Tunggul Ametung, yang kelak lahir dan menjadi seorang Anusapati. Anusapati sebagai keturunan dari Tunggul Ametung membalaskan dendamnya dan merebut kembali kekuasaan ayahnya dari Ken Arok. Kisah tersebut mengawali terjadinya pertumpahan darah di dalamperebutan kekuasaan di Kerajaan Singasari selama berdirinya kerajaan.

Perebutan kekuasaan yang terjadi di kerajaan konsisten dilakukan untuk beberapa generasi penerus. Mulai dari Anusapati, kemudian kembali kepada putra Ken Arok, Tohjaya, kemudian beralih kepada Wisnuwardhana, dan barulah berhenti pada kepemimpinan Kertanegara. Kejadian dan pergantian kekuasaan tersebut dianggap sebagai perwujudan dari konflik internal daam keluarga dan keturunan dari penguasa sebelumnya.

Kerajaan tersebut dipimpin oleh beberapa raja mulai dari Sri Rajasa Amurwabhumi atau Ken Arok pada tahun 1222 hingga 1227, kemudian Anusapati pada tahun 1247 hingga 1249, lalu Tohjaya pada tahun 1249 hingga 1250, kemudian Ranggawuni atau Wisnuwardhana pada tahun 1950 hingga 1272, lalu yang terakhir ialah Kertanegara yang berkuasa sejak tahun 1272 hingga 1292. Pergantian-pergantian yang dilakukan itu diwarnai dengan pertumpahan darah karena terjadi beberapa kali balas dendam yang dilakukan oleh anak dan keturunan Ken Arok sendiri.

Kerajaan ini mencapai kejayaannya ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara, sejak tahun 1272 hingga 1292. Pada tahun 1275, Kertanegara dapat menaklukan kerajaan Melayu di Sumatera dan dijadikan benteng pertahanan ketika melawan bangsa Mongol. Kekuasaan Singasari meluas ketika berada di bawah kepemimpinan Kertanegara. Kekuasaannya meliputi Melayu, Pahang, Bali, Gurun dan masih banyak lainnya.

Pada kepemimpinan Kertanegara pula Kerajaan Singasari runtuh. Penyebabnya ialah meninggalnya Kertanegara karena dibunuh oleh Jayakatwang, yang didasari dendam pribadi sebagai sepupu, ipar, sekaligus besan raja. Setelah kejadian berdarah itu, Jayakatwang mendirikan kerjaan baru yang bernama Kerajaan Kediri. Itulah yang mendasari runtuhnya Kerajaan Singasari di masa lampau.

Sejarah Tokoh Nitisemito sebagai Raja Kretek

Sejarah Tokoh Nitisemito sebagai Raja Kretek – Tahukah kamu tentang Raja Kretek? Tokoh Nitisemito, Raja Kretek yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Inilah sejarah kehidupan beliau.

Nitisemito lahir pada tahun 1853 di Kudus. Beliau memiliki nama asli Roesdi. Nama tersebut diberikan oleh ayahnya, yang merupakan seorang Lurah. Nama Nitisemito dipilihnya sendiri untuk disandang sejak ia dewasa.

Kenginan ayahnya, beliau bersekolah dan melanjutkan jabatan ayahnya sebagai lurah. Namun keinginan tersebut tidak dilakukan oleh Nitisemito. Beliau memilih berdagang, merantau dan menjadi pengusaha, membuka usaha milik sendiri. Walaupun semua tidak secara langsung memberikan hasil yang baik, usaha perdagangan tetap dilakukan olehnya semasa muda. Beberapa usaha yang dilakukan olehnya yaitu mulai dari usaha konveksi, penjualan batik, yang keduanya gagal karena memiliki banyak saingan, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah dan menjual rokok kretek.

Hingga pada akhirnya beliau menikah dengan Nasilah, penjual tembakau, yang juga merupakan peracik rokok kretek. Istrinya meracik rokok kretek ketika masih berjualan tembakau. Rokok racikannya tersebut diminati oleh banyak orang, kemudian dari situlah mereka memulai usaha rokok kretek.

Usaha pabrik rokok kretek beliau mulai berkembang pada tahun 1916, kemudian menjalani masa jayanya hinga tahun 1934. Rokok kretek miliknya berhasil dijual hingga Jawa Barat, Jakata, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga ke Belanda. Kemajuan usaha rokok kreteknya sangat pesat. Hingga menjadi perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia. Bahkan pada masa itu, Nitisemito mampu menyewa pesawat Fokker untuk digunakan menyebarkan brosur rokok kreteknya ke Jawa Barat dan Jakarta. Tidak hanya itu, promosi yang dilakukan oleh beliau merupakan strategi promosi yang sudah modern, terbukti dengan melakukan promosi di klub sepakbola kesukaan, menggunakan media radio, memberikan hadiah berupa cangkir, gelas, jam tangan, dan jam dinding, serta sepeda, yang semuanya bertuliskan logo rokok kretek miliknya.

Dalam perjalanan usahanya, rokok kretek yang dijualnya mengalami beberapa kali perubahan merk dagang. Perubahan tersebut ialah dari merk dagang Tjap Kodok Mangan Ulo, berganti menjadi Tjap Soempil, berganti lagi menjadi Tjap Djeroek, dan yang terakhir berganti menjadi Tjap Bal Tiga. Merk dagang Tjap Bal Tiga itulah yang kemudian dipatenkan oleh  Belanda hingga berakhirnya usaha kretek beliau. Ratu Wilhelmina bahkan memberi sebutan khusus kepadanya sebagai De Kretek Konning atau dalam bahasa Indonesia berarti Raja Kretek. Beliau disegani oleh Belanda karena hal tersebut. Pabrik rokoknya juga menghasilkan 8 juta batang rokok setiap harinya.

Selain sukses di bidang usaha, beliau juga sukses melakukan kegiatan politik dengan dekat dengan beberapa tokoh perjuangan pada masa itu. Rasa nasionalisme yang dimilikinya juga tinggi, haltersebut terbukti dengan kemauannya untuk menyumbangkan sesuatu untuk mendukung perjuangan kemerdekanan Republik Indonesia. Bahkan villa beliau yang berada di Salatiga digunakan untuk melakukan perundingan oleh Bung Karno.

Itulah sejarah singkat mengenai Raja Kretek. Raja Kretek yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Yang berhasil memperjualbelikan rokok kreteknya ke beberapa daerah di luar Pulau Jawa.

Mengenal Sosok Sederhana Gus Dur Selama menjadi Presiden

Mengenal Sosok Sederhana Gus Dur Selama menjadi Presiden – Siapa yang tidak mengenal Presiden keempat Indonesia, Gus Dur? Presiden keempat Indonesia ini bernama Abdurrahman Ad-Dakhil, kemudian dikenal sebagai K. H. Abdurrahman Wahid, namanya berganti karena beliau merupakan putra dari K. H. Wahid Hasyim, putra dari salah satu pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama, K. H. Hasyim Asyari.

Abdurrahman Ad-Dakhil lahir pada tanggal 7 September 1940 di Jombang, Hindia Belanda dan meninggal pada tanggal 30 Desember 2009 karena mengalami serangan jantung. Beliau merupakan Presiden yang memimpin Indonesia sejak 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001, dengan berhasil memenangkan suara yang berjumlah 373, dan didampingi wakilnya Megawati Soekarnoputri.

Semasa hidupnya beliau didampingi istri yang bernama Sinta Nuriyah, keduanya juga memiliki empat putri yang masing-masing bernama Alissa Qatrunnada, Yenny Wahid, Inayah Wulandari, dan Anita Hayatunnufus. Keluarga tersebut hidup dalam keadaan yang sederhana walaupun sang ayah merupakan ulama dan pemimpin Indonesia.

Sosok presiden keempat yang dikenal dengan panggilan akrabnya, Gus Dur, merupakan seorang presiden yang dikenal nyeleneh dan sederhana. Kesederhanaan tersebut telah mandarah daging dan dilakukan sejak beliau masih muda, tidak hanya ketika menjadi presiden Indonesia.

Presiden ini dikenal sebagai sosok yang kontroversial, nyeleneh, merakyat, dan sangat sederhana. Kepemimpinannya yang singkat membawa istana negara menjadi istana rakyat. Kesederhanaan presiden yang tidak menunjukkan beliau bergelimang harta menjadi salah satu faktor yang membuat rakyat mencintai dan menghormatinya.

Bahkan sebagai seorang presiden yang sewajarnya memiliki fasilitas yang mewah dan serba ada, Gus Dur tidak pernah memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut untuk aji mumpung. Sosoknya menjadi sederhana karena berpegang teguh tehadap ajaran agama yang diyakininya, yang mengajarkan bahwa semua manusia itu memiliki derajat yang sama, pun juga bersyukur dengan apa yang dimilikinya, tidak memaksakan untuk hidup ngoyo, selalu apa adanya.

Kesederhaan yang dilakukannya tersebut terbukti dengan adanya cerita-cerita dari ajudan, keluarga, juga kawan seperjuangan beliau ketika masih hidup. Ketika harus bepergian untuk mengikuti kunjungan negara, beliau hanya menggunakan kardus bekas untuk membawa pakaian yang diperlukannya, kemudian beliau juga tidak pernah meminta untuk diperlakukan secara khusus layaknya seorang presiden untuk beberapa waktu tertentu, tidak heboh membawa keluarga ketika harus pergi ke luar negeri, memperlakukan anak-anak dan menantunya sama dengan rakyat lainnya, tidak memberikan suatu hal yang special untuk penghidupan keluarganya.

Cerita lain yang dapat dikenang mengenai kesederhanaan Gus Dur ialah kebiasaannya yang hanya memakai sandal jepit serta sarung di istana, memilih untuk tidur di Kasur tipis di ruang tamu, merebahkan tubuhnya di lantai kereta yang beralaskan koran ketika berada di dalam perjalanan, memilih untuk tidak menggunakan pengawalan ketat ketika mendatangi tokoh-tokoh besar di pesantren, tidak menggunakan uang hasil kerjanya untuk kehidupan pribadinya, membagi-bagikan hartanya untuk rakyat yang membutuhkan, juga menggunakan mobil pinjaman Taufik Kiemas untuk melakukan kegiatan sehari-harinya selama bertugas menjadi presiden.

Kesederhaan yang dilakukan oleh Abdurrhaman Wahid ini dilakukan semata-mata karena beliau memang orang yang apa adanya, juga untuk menjadi sosok presiden yang dapat dijangkau oleh rakyat, tidak seperti sekarang, pejabat-pejabat berlomba-lomba untuk menjadi tak tersentuh oleh rakyat yang diwakili.

Begitulah potret kesederhanaan seorang mantan presiden keempat Indonesia yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan juga tanpa pencitraan untuk suatu kepentingan politik dan lain sebagainya.

Sejarah Perkembangan dan Terbentuknya Kerajaan Demak

Sejarah Perkembangan dan Terbentuknya Kerajaan Demak – Sejarah Perkembangan Kerajaan Demak atau Kesultanan demak adalah menjadi sejarah penting  dalam penyebaran agama Islam.

Sebuah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Berdiri pada akhir abad-15 di Demak. Kerajaan yang didirikan oleh Raden Patah, seorang anak Raja Majapahit dan ibunya berasal dari putri raja dari negeri Tiongkok.

Pada masanya, Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam dibawah kepemimpinan Raden Patah. Setelah runtunya Majapahit, Walisongo memberikan mandat sebuah pemerintahan dan memberikan gelar kepada Rade Patah yaitu Panembahan Jimbun.

Ketika terbentuknya Kerajaan Demak, karena adanya peran penting para Walisongo,  pada masa kepemimpinan Raden Fatah adalah fase awal semakin berkembangnya agam Islam di pulau Jawa. Kerajaan ini memiliki peran penting pada masa kejatuhan Majapahit dan penyebaran Islam di tanah Jawa.

Setelah Raden Fatah wafat pada 1518, kepemimpinan Kerajaan Demak diteruskan oleh anaknya, yaitu; Adipati Unus. Sebelum menggantikan Raden Fatah, Adipati Unus terkenal dengan keberaniannya ketika ia menjabat sebagai panglima.

Karena keberaniannya, Pati Unus dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor. Ia jua pernah memimpin penyerbuan kedua melawan Portugis pada tahun 1521. Penyerbuan tersebut memberikan luka Kerajaan Demak. Dengan kejadian tersebut menewaskan Pati Unus pada pertempuran pada saat itu.

Setelah kepemimpinan Adipati Unus, dilanjutkan oleh Sultan Trenggana (1521-1546). Pada masa pemerintahannya, ia mampu membawa Kerajaan Demak pada puncaknya. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Demak banyak menaklukan ke wilayah pelabuhan-pelabuhan di pulau Jawa hingga ke pendalaman.

Dengan pasukan Islam gabungan dari Demak dan Cirebon yang dipimpin oleh Fathaillah, salah satu pelabuhan yang ia taklukan adalah Sunda Kelapa. Ketika itu dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Kala itu, hubungan dekat Kerajaan Sunda Kelapa dengan Imperium Portugal menjadi ancaman bagi Kerajaan Demak.

Keberhasilan tersebut melahirkan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang memiliki arti kemenangan sempurna. Setelahnya wilayah tersebut diganti menjadi Batavia.

Hasil kemenang tersebut membuat Kerajaan Demak mampu menghalau Portugis mendarat di sana (1527). Setelahnya, Kerajaan Demak berhasil menaklukkan hampir seluruh Pasundan/Jawa Barat (1528 – 1540) serta wilayah-wilayah bekas Majapahit di Jawa Timur seperti Tuban (1527), Madura (1528), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527 – 1529), Kediri (1529), Malang (1529 – 1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1529 – 1546).

Sultan Trenggana akhirnya menemui ajalnya pada tahun 1546 saat insiden menyerang Panarukan, pada saat itu dikuasai Kerajaan Blambangan. Wafatnya Sultan Trenggana membuat jabatannya menjadi incaran beberapa orang.

Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar berupaya menduduki kursi yang kosong pada saat itu dengan mengalahkan Sunan Prawata, anak dari Sultan Trenggana. Tidak mau kekuasaaan ayahandanya direbut begitu saja, Sunan Prawata akhirnya membunuh Pangerang Surowiyoto.

Atas kejadi tersebut membuat Sunan Prawata tidak mendapatkan dukungan dari beberapa pihak. Lalu ia memindahkan pusat Kerajaan Demak ke wilaya Prawoto, Pati, Jawa Tengah. Karena hal tersebut membuatnya tak lama menjabat sebagai pemimpin Kerajaan Demak.

Karena memiliki dendam ketika ayahnya terbunuh, Arya Penangsang, anak dari Surowiyoto akhirnya membunuh Sunan Prawata. Hingga akhirnya Arya Penangsang menyingkirkan Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, penguasa Jepara karena dianggap menjadi ancaman bagi dirinya.

Karena hal tersebut membuat para adipati-adipati di bawah memusuhinya. Salah satunya menantu Sultan Trenggono Joki Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Puncak cerita runutan balas dendamnya akhirnya berakhir.

Sutawijaya anak angkat dari Joko Tingkir akhirnya membunuh Arya Penangsang. Tergabung dalam Pasukan Panjang saat menyerang Jipang. Pemberontakan tersebut disebabkan kemarahannya karena Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat..

Kerajaan Demak tak memiliki umur panjang. Karena selalu mengalami masa peralihan kepemimpinan dari tahun ke tahun. Hal tersebut terjadi disebabkan ketika Sultan Trenggana wafat, dan akhirnya melahirkan pemberontakan terus menerus.

Haus akan kekuasaan membuat Kerajaan Demak memasuki masa kehancuran. Hingga akhirnya, Joko Tingkir akhirnya memutuskan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Demak ke Panjang. Karena pemindahan pusat pemerintahan itulah ia mendirikan Kerajan Panjang atau Kesultanan Panjang.

Dari keputusan itulah menjadi perjalanan terakhir Kerajaan Demak berdiri di atas pulau Jawa. Pada akhirnya kita hanya bisa menemukan peninggalan iconicnya yaitu; Masjid Agung Demak.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mohammad Hoesni Thamrin

Mengenal Lebih Dekat Sosok Mohammad Hoesni Thamrin – Mohammad Hoesni Thamrin, adalah salah satu sosok berpengaruh dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Dikenal sebagai politis pada era Hindia-Belanda, Ia Lahir di Jakarta, 16 Februari 1894. Karena hal tersebut menjadikan dirinya sebagai tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Betawi.

Ia dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya yang bernama Tabri Thamrin adalah seorang wedana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Cornelis Van der Wijck. Dan ibunya hanya seorang masyarakat lokal Betawi.

Karena hal tersebut membuatnya mengerti permasalahan apa saja yang dialami rakyat Betawi. Sebagai anak wedana, ia tak terpisahkan dengan masyarakat jelata. Karena hal itu pula, membuatnya tergerak untuk merubah keadaan tersebut.

Walaupun ia berasal dari keluarga sederhana, tak menghilangkan semangatnya. Dalam awal perjalanannya, ia mampu menempuh Pendidikan hingga HBS atua setingkat SMA. Setelah ia menempuh jenjang sekolahnya, Mohammad Hoesni Thamrin pernah bekerja di kantor kepatihan.

Karena memiliki prestasi yang cukup baik, membuat dirinya dipindahkan ke kantor residen. Hingga pada akhirnya ia bekerja pada perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM).

Setelahnya, karena dedikasi dan memiliki kecerdasan ia mampu menarik perhatian pemerintah Belnada. Mohammad Hoesni Thamrin ditunjuk untuk menduduki jabatan Greementeraad. Untuk mewakili penduduk Batavia waktu itu, ia mengetahui baik permasalahan rakyat Betawi.

Sebelum ia menjabat, ia sering kali menawarkan solusi dan memecahkan masalah yang dihadapi. Ditambah lagi, Mohammad Hoesni Thamrin memiliki teman akrab dari Belanda yaitu, Van der Zee. Karena hal itulah membuat mereka berdua sering berdiskusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

Salah satunya, hasil diskusi yang mereka miliki adalah terciptanya buah pikirin Mohammad Hoesni Thamrin yang diadopsi Van der Zee mengenai bendungan Sungai Ciliwung untuk menyelesaikan masalah banjir yang diangkat dan menjadi pembahasaan dalam parlemen.

Buah pemikirannya tak sia-sia. Terbukti ketika proyek tersebut diselenggarakan, ia berhasil menanggualngi permasalahan banjir. Karena hal tersebut memnbuat perjalanan Mohammad Hoesni Thamrin dalam dunia politik semakin cemerlang.

Pada tahun 1927 ia diangkat sebagai anggota Volksraad. Dan membentuk Fraksi Nasional untuk memperkuat kedudukan kaum nasionalis dalam dewan. Menjadi anggota Volksraad tak membuatnya haus akan kekuasaan.

Ia sadar bahwa kehadirannya memangku jabatan tersebut untuk memperjuangkan nasib bangsanya. Pada rapat pertamanya, ia melakukan pidatonya yang berisikan analisa perbedaan struktur sistem kolonial dan yang dianut oleh masyrakat pribumi.

Secara tidak langsung, ia menginginkan masyarakat pribumi memiliki hak dapat mengatur pemerintahannya sendiri. Bersama Kusumom Utoyo, ia mengadakan peninjauan ke daerah Sumatera. Untuk melihat nasib buruh perkebunan karena adanya poenale sanctie  atau sanksi hukuman yang diberikan bila para buruh melanggar kontrak (melarikan diri).

Hal itulah yang membuat para buruh menderita. Dengan adanya tindakan pengusaha seenaknya seperti itu membuat dikemukakannya hal tersebut dalam pidatonya di Volksraad. Pidato tersebut berpengaruh di luar negeri. Akibatnya poenale sanctie mendapat kecaman dan akhirnya dihapuskan.

 

Setelahnya, Pada tahun 1929 terjadi insiden besar menyangkut pengisian jabatan Wakil Wali Kota Batavia saat itu.Karena pemerintahan Belanda melakukan tindakan dengan memberikan mandat kepada orang Belanda yang tak memiliki pengalaman untuk mengisi jabatan kosong Wakil Wali Kota Batavia saat itu.

Tindakan tersebut mendapatkan kecaman keras dan reaksi dari Fraksi Nasional.Langkah-langkah yang dilakukan dengan cara melakukan pemogokan. Usaha tersebut berhasil. Hingga pada akhirnya Mohammad Hoesni Thamrin terpilih mengisi jabatan Wakil Wali Kota Batavia.

Dari sanalah pergerakan nasional mengalami mengalami perubahan, ditambah lagi didirikannya PNI dan munculnya sosok Soekarno sebagai pemimpin. Mohammad Hoesni Thamrin juga berperan aktif dalam kegiatan Partai Indonesia Raya (Parindra), Partai yang dibentuk oleh dr. Sutomo.

Setelah dr. Sutomo meninggal, ia diangkat sebagai ketua Parindra. Namun perjuangannya dalam Volksraad tetap berjalanan. Pada tahun 1939, Mohammad Hoesni Thamrin melayangkan mosi tentang penggunaan bahasa Indonesia.

Namun ditolak mentah-mentah oleh pemerintahan Belanda walaupun mendapat dukungan dari beberapa anggota Volksraad. Sejak saat itu ia mulai membenci pemerintahan Belanda. Hingga pada akhirnya ia diawasi karena dicurigai .

Pada 6 Januari 1941, Mohammad Hoesni Thamrin dikenakan tahanan rumah dengan tuduhan bekerjasama dengan Jepang. walau dengan keadaan sakit; keluarga, sahabat dan temannya tidak bisa menejenguknya.

Hingga akhirnya pada 11 Januari 1941 ia menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di Pekuburan Taman Karet, Jakarta.

Perjalanan perjuangannya dapat menjadi contoh dan teladan untuk kita. Walaupun mendapatkan jabatan, ia masih tetap memikirkan rakyat dan bangsanya. Sebagai bentuk penghargaan, Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan, gedung dan sebuah patung.

Mari Mengenal Lebih Dalam Cut Nyak Dhien Pahlawan Perempuan

Mari Mengenal Lebih Dalam Cut Nyak Dhien Pahlawan PerempuanTjoet Nja’ Dhien atau Cut Nyak Dhien adalah salah satu tokoh Pahlawan Nasional Indonesia yang memiliki pengaruh besar terhadap perjuangan melawan penjajahan Belanda sebagai kaum perempuan. Bahkan hingga saat ini perjuangannya sebagai motivasi dan contoh penting bagi terbentuknya kaum perempuan kuat dan tangguh.

Lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh 1848, ia adalah orang yang paling ditakuti Belanda. Mereka menganggap Cut Nyak Dhien sebagai ancaman. Karena ia dapat mengobarkan semangat juang rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda.

Dilahirkan sebagai anak bangsawan tak menyurutkan semangatnya untuk melawan penjajahan. Ia memilik seorang ayah bernama Teuku Nanta Seutia, yang merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati. Sedangkan ibunya merupakan Putri uleebalang Lampageu, tumbuh menjadi wanita tangguh.

Pada tahun 1862, ketika ia menginjak umur 12 tahun, ia sudah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Namun nasib tak berpihak kepadanya. Pada tahun 1880 Teuku Cek Ibrahim meninggal ketika berperang melawan belanda.

Setelah ia mengetahui bahwa suaminya meninggal karena peperang, dari sanalah semangatnya semakin berkobar. Dalam dirinya, ia berjanji ingin menghancurkan Belanda karena kekesalannya terhadap Belanda yang membuat suaminya meninggal.

Tak lama dari tahun kematian suaminya ia menikah lagi dengan Teuku Umar. Sebelum pernikahan tersebut berlangsung, ia dijanjikan ketika sudah menikah, dirinya diperbolehkan mengikuti peperangan rakyat aceh untuk menumpas Belanda.

Mereka berdua berjuang bersama melakukan peperang melawan belanda. Pada tahun 1893 Teuku Umar membuat rencana untuk menyerahkan diri dan pasukannya yang berjumlah 250 orang kepada belanda agar ia dapat memahami taktik perang belanda.

Waktu itu Belanda sempat terkecoh atas penyerahan diri dan pasukannya. Karena belanda merasa senang karena musuh besar mereka akhirnya menyerah dengan begitu saja. Sampai akhirnya ia mendapatkan gelar Teuku Omar Johan Pahlawan, dan jabatan komandan unit pasukan Belanda.

Ia tetap merahasiakan rencanyanya. Walaupun ketika itu rakyat Aceh marah besar. Karena mengangap Teuku Umar sebagai pengkhianat atas penyerahan diri dan pasukannya kepada Belanda. Tapi tak disangka, dengan perhitungan matang Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien menyerang balik Belanda.

Setelah pelan-pelan ia mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia pimpin,ketika ia merasa memiliki pasukan rakyat Aceh tercukupi, ia melakukan rencana palsu kepada pihak Belanda bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

Bersama Cut Nyak Dhien, Teuku Umar mengumpulkan rakyat Aceh untuk memberikan mereka senjata dan menyerang Belanda kembali secara gerilya. Ketika Belanda mengetahui gerakan tersebut, mereka marah besar dan melancarkan operasi besar-besaran.

Penghianatan Teuku Umar terhadap pihak belanda dikenal memiliki sebutan Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar). Keadaan tersebut membuat Belanda carut-marut dan ketakutan.

Untuk menyelesaikan pemberontakan ini Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontakan. Karena rencana itulah akhirnya sang jenderal mengetahui bahwa Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien ingin melakukan penyerangan di wilayah Meulaboh.

Namun naas, takdir kembali tak berpihak kepadanya.Pada tahun 1899 Teuku Umar tewas tertembak mati. Karena waktu itu Teuku Umar menjadi pemimpin gerakan, ia mengambil alih kepemimpinan gerakan peperang tersebut di daerah pedalaman Meulaboh.

Akibat kejadian tersebut membuat Cut Nyak Dhien berjuang bersama pasukan kecilnya. Karena pada saat itu usianya relatif sudah tua dengan kondisi tubuhnya digerogiti penyakit, membuat pasukannya merasa iba dan hingga akhirnya mereka memberitahukan keberadaan Cut Nyak Dhien.

Dengan mudah pasukan Belanda berhasil menemuinya. Walaupun sempat melakukan perlawanan, namun Cut Nyak Dhien akhirnya tetap tertangkap. Walaupun seorang anaknya yang bernama Cut Gamang berhasil lari ke hutan.

Setelah ia tertangkap, ia di bawa ke Banda Aceh. Di sana ia diberikan perawatan hingga ia berangsur pulih. Tetapi pihak Belanda masih merasakan kekuatan seorang Cut Nyak Dhien begitu besar untuk memberikan bara perlawanan semakin panas untuk Belanda.

Ditambah beberapa para pejuang rakyat Aceh tak sepenuhnya belum tertangkap. Belanda waktu itu merasakan ketakutan adanya semangat juang kembali rakyat Aceh untuk menyerang mereka. Karena landasan tersebut akhirnya Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang.

Ia diasingkan bersama para pejuang rakyat Aceh yang pada saat itu tertangkap. Ketika ia berada di Sumedang, dengan usia yang berangsur menua, ia meninggal di Sumedang pada 6 November 1908. Makamnya baru ditemukan pada tahun 1959.

Sejarah Sunan Kalijaga Yang Harus Diketahui Masyarakat Indonesia

Sejarah Sunan Kalijaga Yang Harus Diketahui Masyarakat Indonesia – Mayoritas masyarakat Indonesia mungkin mengenal tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam di Nusantara, yaitu; Sunan Kalijaga. Namun, dari kebanyakan orang hanya mengenal sosok hebat ini dan tak mengetahui sejarah mengenai Sunan Kalijaga.

Maka dari itu, mari kita berkenalan dengan sejarah perjalanan Sunan Kalijaga:

Sira Ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Kalijaga Waliyullah Tanah Jawi Langgeng ing Bawana atau Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Walisongo yang berpengaruh menyebarkan dakwah islam di pulau Jawa.

Lahir pada tahun 1450 Masehi, ia dikenal luas sebagai wali dan dekat dengan masyarakat di pulau Jawa. Dalam perjalanannya, Sunan Kalijaga melintang luas pada era beberapa kerajaan di pulau Jawa. Seperti; Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, hingga menuju awal Kesultanan Mataram Islam.

Pada kelahirannya, Sunan Kalijaga diberi nama Raden Said. Seorang putra Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban, pada masa mudanya Sunan Kalijaga dikenal dengan sosok remaja nakal yang suka minum minuman kersa, berjudi, mencuri dan banyak melakukan perbuatan merugikan banyak oranng.

Dengan keadaan masa mudanya seperti itu, ayahanda Sunan Kalijaga yang sekaligus seorang bangsawan Tuban merasa malu ketika memiliki seorang anak yang sulit diatur. Akibatnya, Sunan Kalijaga diusir dari rumah oleh orang tuanya.

Walaupun ia diusir telah diusir dari rumah, tak menyulutkan kenalakannya di masa itu. Justru, ia menjadi bromocorah alias penjahat. Ia melakukan banyak keonaran dan kerusuhan. Bahkan konon katanya ia pernah menghabisi seseorang hingga tak bernyawa.

Menurut sejarah Sunan Kalijaga dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam 2020, akibat aksinya sering melakukan perampokan dan merampas harta orang lain, ia dijuluki Lokajaya yang menguasai suatu wilayah.

Setelah keonaran telah lama ia perbuat, pada suatu hari ia bertemu Sunan Bonang. Waktu itu, ia ingin merampas harta Sunan Bonang. Entah apa yang terjadi ketika ia ingin merampas harta Sunan Bonang, ia pada akhirnya mendapatkan kesadaran dan bertobat.

Kemudian, Sunan Bonang menjadi guru spiritualnya. Selain itu juga Sunan Bonang menjadi guru dalam mempertebal ilmunya mengenai islam. Ia juga menekuni kesusasteraan Jawa dan belajar mendalang. Karena ia mempelajari hal-hal tersebut, ia jadikan dakwah Islam dengan cara tersebut. Hingga akhirnya ia diterima oleh seluruh kalangan masyarakat.

 

Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam perjalanan dakwahnya, ia memulai hal tersebut di daerah Cirebon, Desa Kalijaga untuk memberikan dakwah kepada masyarakat Indramayu dan Pamanukan. Karena dakwahnya di daerah tersebut barulah ia dikenal dengan sebagai Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga terkenal berbeda ketika ia berdakwah dengan tokoh Walisongo lainnya. Dengan  pendekatan seni dan budaya, ia sangat mahir mendalang dan menggelar pertunjukan wayang sebagai dalang.

Ia juga dikenal dengan julukan Ki Dalang Sida Brangti, Ki Dalang Bengkok, Ki Dalang Kumendung, atau Ki Unehan. Dalam pertunjukannya, terdapat banyak lakon digubah Sunan Kalijaga yang diadaptasi  dari naskah kuno, salah satu yang paling digemari adalah lakon Dewa Ruci, Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja.

Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga juga menambahkan tokoh-tokoh baru seperti punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng.

Ketika ia menggelar pertunjukan wayang, ada hal pembeda ketika ia sedang melakukan pertunjukan wayang. Ia tak pernah mematokan harga bagi mereka yang ingin menyaksikan pertujukannya.

Tetapi cukup menyebutkan Kalimosodo atau dua kalimat syahadat sebagai syarat seseorang yang ingin memasuki atau menonton pertunjukan wayang yang ia gelar. Dengan cara tersebut tanpa disadari, mereka yang berhasil masuk atau menonton pertunjukan sudah masuk Islam.

Berkat kelihaian Sunan Kalijaga bersosialisasi, lambat laun masyarakat sekitar mengenal Islam dan pelan-pelan mulai menjalankan syariat Islam.

Selain melakukan pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga juga mengubah tembang yang sarat dengan muatan keislaman. Dalam buku Atlas Wali Songo (2016), menuliskan bahwa, sebagai dalang dan pengubah tembang, Sunan Kalijaga juga berkreasi sebagai seniman dan penari topeng, perancang pakaian, perajin alat-alat pertanian, hingga penasihat sultan dan kepala-kepala daerah pada masa itu.

Mengenal Gagahnya Seorang Patih Gajah Mada

Mengenal Gagahnya Seorang Patih Gajah Mada – Bagi masyarakat Indonesia mungkin tak lagi asing ketika mendengar sosok Gajah Mada. Ia adalah sosok penting bagi kejayaan Kerajaan Majapahit. Dan memiliki peran utama untuk  menyatukan wilayah nusantara.

Sosok besar yang melahirkan semangat persatuan nusantara ini lahir di tepi Sungai Brantas, pada tahun 1299. Awal mulai karirnya, ia mengabdi sebagai seorang prajurit Kerajaan Majapahit.

Karena memiliki kecerdasan dan ketangkasan dari para prajurit lainnya, ia berhasil dipilih sebagai panglima Bhayangkara. Yang di mana ia memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi seorang raja beserta keluarganya.

Menurut sumber kitab dan prasasti Jawa Kuno, ia memulai perjalanannya pada tahun 1313 dan meroket setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada era pemerintahan Sri Jayanagara.

Pada peristiwa pemberontakan ia berhasil mengatasi pemberontakan paling berbahaya dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Ketika bertugas, ia mampu menyelamatkan Prabu Jayanegara dari serangan pemberontakan. Setelah peristiwa tersebut ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319.

Setelah dua tahun kemudian, ia menggantikan Arya Tilam, pada waktu itu memiliki jabatan sebagai Patih Daha. Pengangkatan jabatan tersebut bisa ia capai karena ia memiliki jiwa yang mengesankan, dapat berbicara dengan tegas dan tajam, ikhlas, jujur serta miliki pikiran sehat.

Karena pengangkatan tersebut membuat ia masuk ke dalam strata sosial elitis Kerajaan Majapahit pada waktu itu. Setelahnya, ketika Jayanegara meninggal, ia mengemban tugas menggantikan Jayanegara melalui penunjukan dari Ibusuri Gayatri.

Walaupun awalnya ia menolak, tetapi ia ingin memberikan jasa terlebih dahulu pada Majapahit dengan cara menaklukan Keta dan Sadeng ketika waktu itu melakukan pemberontakan.

Ketika ia sedang dilantik, terjadi suatu momen bersejarah yang fenomenal sampai saat ini, selama perjalanan perjuangannya. Yaitu; mengucapkan Sumpah Palapa.

Sebagaimana tercatat dalam kitab pararaton:

SIRA GAJAH MADA PEPATIH AMUNGKUBUMI TAN AYUN AMUKTI PALAPA, SIRA GAJAH MADA: LAMUN HUWUS KALAH NUSANTARA INGSUN AMUKTI PALAPA, LAMUN KALAH RING GURUN, RING SERAM, TAÑJUNGPURA, RING HARU, RING PAHANG, DOMPO, RING BALI, SUNDA, PALEMBANG, TUMASIK, SAMANA INGSUN AMUKTI PALAPA.

Dengan memiliki arti; Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati palapa. “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.

Walaupun sekelompok orang meragukan sumpahnya, Gajah Mada hampir berhasil menaklukan dan menyatukan Nusantara. Beberapa wilayah telah ia taklukan, seperti; Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin,.

Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Setelah itu ia tetap meneruskan perluasan kekuasaaan dengan melakukan penaklukan wilayah timur. Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Namun, ketika ia ingin melakukan perluasan untuk menaklukan Kerajaan Sunda, dengan melakukan langkah-langkah diplomasi hendak menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi, Gajah Mada melakukan pemaksaan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan, terjadi penolakan Kerajaan Sunda hingga akhirnya terjadilah pertempuran tidak seimbang pasukan Majapahit dan Kerajaan Sunda.

Atas kejadian tersebut Dyah Pitaloka bunuh diri karena melihat ayah dan seluruh pasukannya mati ketika perang. Akibatnya membuat perjalanan diplomasi tidak berjalan dengan baik. Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya karena di pandang ingin melakukan invasi militer padahal jalan tersebut tidak boleh dilakukan.

Seperti itulah kegagahan seorang tokoh fenomenal dalam sejarah Nusantara. Walaupun ia memilki peranan penting dalam menyatukan nusantara, akhir riwayat Gajah Mada hingga saat ini masih belum jelas. Namun, sebagai tanda penghormatan kepadanya, para pemimpin seperti; Sukarno dan Muh. Yamin, sering menyebut sumpah Gajah Mada sebagai inspirasi dan “bukti” bahwa bangsa ini dapat bersatu, meskipun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, Gajah Mada adalah inspirasi bagi revolusi nasional Indonesia untuk usaha kemerdekaannya dari kolonialisme Belanda.

Sejarah Awal Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai

Sejarah Awal Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai – Kerajaan Samudera Pasai adalah salah satu dari sekian banyak kerajaan yang pernah berdiri di atas tanah nusantara. Kerajaan tersebut merupakan kerajaan islam pertama yang berkuasa pada abad ke-13 sampai abad ke-16.

Kerajaan ini terletak di pesisir utara Sumatera. Lebih tepatnya berada pada Kota Lhokseumawe, Aceh. Didirikan oleh seorang laksamana Mesir, Naizimuddin al- Kamil.

Sejarah Singkat

Dengan sejarah kepemimpinan yang dipimpin oleh seorang sultan (kesultanan), kerajaan tersebut merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak yang sudah dibangun sebelumnya.

Dalam perjalanan masa kepemimpinan kerajaan ini, diawali oleh Marah Sillu sebagai pimpinan pertama yang diangkat langsung oleh Naizimuddin dengan gelar Sultan Malik al-Saleh atau Sultan Malikussaleh
pada masa 1267-1297 Masehi.

Namun, keberadaan atau eksistensi seorang Naizimuddin sebagai pendiri kerajaan Samudera Pasai tak begitu diakui. Karena, seorang Marah Sillu sendiri dianggap sebagai pendiri sekaligus pimpinan pertama kerajaan Samudera Pasai.

Setelah Marah Sillu wafat, kepemimpinan kerajaan ini diteruskan oleh putra beliau, yaitu Sultan Mahmud Malik az-Zahir. Hasil dari perkawinan ayahandanya dengan seorang Putri Raja Perak.

Setelahnya, masa kepemimpinan silih berganti hingga pada tahun 1517 Masehi. Berikut ulasan singkatan para pemimpin Kerajaan Samudera Pasai dan masanya:

  • Sultan Malik al-Saleh/Meurah Silu (1267-1297)
  • Sultan Malik az-Zahir (1297-1326)
  • Sultan Ahmad I (periode 1326)
  • Sultan al-Malik az-Zahir II (periode 1349)
  • Sultan Zainal Abidin I (1349-1406)
  • Sultan Malikah Nahrasiyah (1406-1428)
  • Sultan Zainal Abidin II (1428-1438)
  • Sultan Shalahuddin (1438-1462)
  • Sultan Ahmad II (1462-1464)
  • Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466)
  • Sultan Ahmad IV (1466-1466)
  • Sultan Mahmud (1466-1468)
  • Sultan Zainal Abidin III (1468-1474)
  • Sultan Muhammad Syah II (1474-1495)
  • Sultan Al-Kamil (1495-1495)
  • Sultan Adlullah (1495-1506)
  • Sultan Muhammad Syah III (1506-1507)
  • Sultan Abdullah (1507-1509)
  • Sultan Ahmad V (1509-1514)
  • Sultan Zainal Abidin IV (1514-1517)

 

Masa Kejayaan

Dalam masa kepemimpinan raja ataupun sultan dalam perjalananan kerajaan ini, Sultan Mahmud Malik Az Zahir memiliki sejarah torehan cemerlang. Sebab, beliau berhasil membawa kerajaan ini pada era kejayaan kerajaan Samudera Pasai. Yaitu pada tahun 1326-1345.

Dengan wilayah yang begitu strategis, karena berdekatan dengan Selat Malaka, jalur perdagangan ke Persia, Arab, China dan India memudahkan Kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan pada masanya.

Kerajaan ini juga dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terkenal di dunia. Dengan lada sebagai komoditas andalannya. Tak sampai di situ, kerajaan ini juga terkenal menjadi sebagai produsen sutra, kapur barus dan emas. Bahkan, karena perkembangan aktivitas perdagangan yang begitu masif, membuat perkembangan agama Islam menjadi besar.

Sampai pada akhirnya, puncak kejayaannya diraih ketika aktivitas perdagangan yang semakin maju dan ramai, Kerajaan Samudera Pasai akhirnya merilis mata uang emas yang disebut dirham untuk digunakan sebagai alat jual beli secara resmi.

Kemunduran

Seiring waktu yang terus berputar, masa kejayaan kian lama kian menurun. Ditandai oleh ambisi Kejaraan Majapahit ketika itu ingin menyatukan nusantara. Setelahnya, muncul lah pusat perdagangan dan politik baru di Malaka dengan lokasi yang lebih strategis. Dan pada titiknya, lahirnya Kerajaan Aceh Darussalam mengambil alih penyebaran agama islam.

Peninggalan

Jejak peninggalan Kerajaan Samudera Pasai bisa kita temui di Kampung Geudong, Aceh Utara. Melalui bukti arkeolog beberapa makam-makam para sultan ditemukan. Areanya tidak begitu jauh dari reruntuhan bangunan kerajaan Samudera Pasai itu sendiri. Persisnya di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Lhokseumawe.

Pada deretan makam yang telah ditemui, terdapat salah satu nama sultan. Yaitu, Sultan Malik al-Saleh yakni raja pertama sekaligus pendiri Samudera Pasai. Tidak hanya makam itu saja. beberapa makam sultan juga ditemukan. Dengan atas nama Sultan Malik az-Zahir, Teungku Peuet Ploh hingga Ratu Al-Aqla.

Tidak hanya makam saja, beberapa barang bersejarah juga ditemukan. Seperti; Lonceng Cakra Donya, stempel kerajaan, buku tassawuf dan hikayat raja pasai.Tak lupa juga, koin-koin berbahan emas juga ditemukan. yang pada masanya menjadi alat pembayaran.

Dengan macam-macam bukti sejarah yang telah ditemukan. Membuat para ahli menyatakan bahwa kerajaan ini pernah berdiri di tanah nusantara dan menjadi salah satu dari sekian banyak sejarah besar yang pernah diukir di negara Indonesia.

http://206.189.145.117/

Situs Togel

Prediksi Togel

Togel Terpercaya

Bandar Toto Togel Online

Daftar Bandar Togel

Toto Togel Terpercaya

Togel Slot Gacor

Agen Judi Slot88 Online Gacor Terpercaya

Togel Online

Situs Togel

Cara Daftar Togel Online

Situs Toto HK 6D Terbesar Dan Terpercaya

Daftar BO Togel Terpercaya

Daftar Bandar Togel Terpercaya Hadiah 4d 9,9 Juta > Coloktoto

situs togel toto macau terpercaya

Situs Toto Togel Terpercaya

situs togel toto terpercaya daftar togel resmi

Agen togel resmi