Inilah Pahlawan Wanita Indonesia yang Wajib Kamu Tahu

Inilah Pahlawan Wanita Indonesia yang Wajib Kamu Tahu – Negara Indonesia sebagai negara yang memperjuangkan bangsanya melalui proses yang panjang memiliki ratusan tokoh yang mampu diteladani. Pahlawan-pahlawan yang membela tidak hanya terdiri dari kaum lelaki, namun juga terdiri dari kaum wanita. Pahlawan-pahlawan wanita yang wajib kamu tahu adalah berikut ini.

  1. Martha Christina Tiahahu (Maluku)

Beliau lahir pada tanggal 4 Januari 1800 di Abubu, Nusalaut, Maluku. Seorang putri sulung dari seorang Kapitan Paulus Tiahahu. Ayahnya merupakan seorang pejuang yang bersama-sama dengan Thomas Matulessy atau sering dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura melakukan perlawanan terhadap Belanda di Saparua dan Nusalaut.

Beliau memiliki tekad yang kuat dalam melawan pejajah, juga terkenal konsisten dalam melakukan peperangan di Nusalaut dan di Saparua. Christina merupakan saatu-satunya perempuan berusia 17 tahun yang konsisten dan gigih dalam melawan Belanda. Sayangnya Christina dan ayanya tertangkap pada sebuah peperangan di Ulath Ouw. Ayahnya diberi hukuman mati sedangkan beliau dihukum dan akan diasingkan ke Pulau Jawa. Namun sejak kepergian ayahnya, beliau terpukul dan kesehatannya menurun. Kemudian pada perjalanan menuju ke Pulau Jawa, Christina meninggal dunia dan jasadnya dilarung di Laut Banda, tepatnya di antara Pulau Buru dan Pulau Manipa pada tanggal 2 Januari 1818.

  1. Nyi Ageng Serang (Jateng)

Nyi Ageng Serang lahir sekitar tahun 1762 di Purwodadi, Jawa Tengah. Beliau merupakan pemimpin pasukan dan penasihat perang. Dirinya ikut serta dalam melawan penjajahan pada awal tahun 1825, membantu Pangeran Diponegoro, walaupun di usianya yang telah senja, pada waktu itu 73 tahun, Nyi Ageng Serang tetap berperang dengan tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Nyi Ageng Serang berjuang di beberapa daerah, seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, dan Rembang. Menurutnya, sebagai rakyat, ia juga perlu mengikuti pelatihan kemiliteran dan siasat perang bersama dengan para prajurit pria. Menurutnya pula, selama ada penjajahan di bumi pertiwi, maka ia harus siap tempur untuk melawan para penjajah. Salah satu strategi perang paling terkenal darinya adalah penggunaan lumbu (daun talas hijau) untuk penyamaran.

 

  1. R. Rasuna Said(Sumatera Barat)

Tokoh wanita berikutnya ialah Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau H.R. Rasuna Said. Beliau lahir pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Rasuna Said merupakan salah satu pahlawan wanita nasional. Dirinya hampir sama dengan R.A. Kartini, memerjuangkan kesamaan hak antara pria dan wanita.

Rasuna Said begitu memperjuangkan pendidikan untuk wanita pada masa itu, beliau juga memerhatikan dan memperjuangkan hak dan kemajuan peran wanita. Pernah mengajar di sebuah Diniyah Putri, namun pada tahun 1930 beliau memilih untuk berhenti. Dirinya berhenti mengajar karena menurut pandangannya, hak perempuan tidak akan dianggap sama jika hanya diperjuangkan hanya dengan ketika  menjadi pengajar dan mendirikan sekolah. Dirinya memutuskan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan melalui politik.

Beliau merupakan seorang yang pandai berpidato, juga tulisan-tulisannya berani mengecam Belanda dengan tajam. Kemudian juga pernah ditahan karena ucapan, tulisan, dan slogan yang melanggar dan mengecam Belanda. Beliau dikenai hukuman karena melanggar Speek Delict. Karena perannya dalam kemajuan hak perempuan, ia diberikan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1974.

  1. Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara)

Kali ini kembali datang tokoh dari timur Indonesia, yaitu Maria Josephine Catherine Maramis atau dikenal sebagai Maria Walanda Maramis. Beliau lahir di Kema, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, pada tanggal 1 desember 1872.

Setelah orang tuanya meninggal, beliau dibawa pindah ke Manado oleh pamannya. Perpindahan tersebut membuatnya bertemu dengan orang-orang terpelajar. Kemudian Maramis melakukan kegiatan hidupnya untuk menaikkan derajat perempuan, terutama dari peran seorang ibu.

Melalui organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya), beliau bersama anggota-anggota yang lain memiliki tujuan agar wanita-wanita muda dan tua di sana sebagai tempat belajar pertama dari seorang anak, mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Berkat usaha dan kegigihannya itu beliau dijadikan Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1969.

  1. Laksamana Malahayati (Aceh)

Pahlawan wanita selanjutnya ialah Laksamana Malahayati. Beliau dikenal sebagai Keumalahayati. Perjuangan dirinya dimulai ketika melawan penjajah Portugis di Teluk Haru, Aceh.

Pada waktu itu suaminya gugur dalam peperangan, kemudian dengan tekad yang gigih beliau mengusulkan kepada Sultan Aceh untuk menciptakan pasukan yang beranggotakan janda-janda prajurit yang telah gugur, dan hal itu dikabulkan. Malahayati memimpin pasukannya yang ditugaskan untuk menjaga pelabuhan dagang yang ada di Aceh.

Pasukan yang dipimpin berhasil melawan dan menyandera dan menewaskan anggota-anggota mereka. Beliau juga terkenal dalam melakukan perundingan dengan Belanda, juga menjadi perempuan Aceh pertama yang mendapat gelar Laksamana.

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Majapahit Di Nusantara

Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Majapahit Di Nusantara – Kerajaan yang berhasil mempersatukan nusantara di masa kejayaannya ialah Kerajaan Majapahit. Sebagai kerajaan yang memiliki predikat seperti itu, mereka berarti diakui kehebatannya karena memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, terlebih pada masa itu. Inilah sejarah singkat berdirinya Kerajaan Majapahit.

Awal Mula Berdirinya 

Kerajaan Majapahit didirikan oleh seorang raja bernama Raden Wijaya. Ia merupakan menantu dari Raja Kertanegara, pemimpin terakhir Kerajaan Singasari. Pada awalnya, Kerajaan Singasari runtuh pada tahun 1292. Kemudian, Raden Wijaya ingin membalaskan dendam Singasari kepada Kerajaan Kediri, yang telah meruntuhkan kerajaan Singasari pada pertempuran yang terjadi antara Raja Kertenegara dengan Prabu Kertajaya, Raja Kediri.

Dendam yang sangat sulit untuk dicegah inilah yang menjadi awal mula peperangan yang meruntuhkan Kerajaan Singasari kemudian secara sendirinya terbawa hingga ke keturunan kedua belah pihak Kerajaan. Prabu Jayakatwang yang merupakan keturunan Kertajaya ingin membalas dendam kepada Ken Arok atas didirikannya Kerajaan Singasari. Dendam tersebut muncul karena berhasil meruntuhkan Kerajaan Kediri .

Pada intinya, keturunan dari Kerajaan Singasari dan Kerajaan Kediri saling ingin membalas dendam. Namun alih-alih membalas dendam, mereka malah bersatu dalam Kerajaan Majapahit. Kedua pihak bahkan melakukan pernikahan untuk dijadikan upaya pencegahan terhadap terjadinya pemberontakan atau pembalasan dendam di dalam satu kerajaan. Sebelumnya, Kertanegara menikahkan Jayakatwang dengan adiknya yang bernama Turuk Bali. Juga puteri Kertanegara, Tribuwana dinikahkan dengan putera Jayakatwang, Arya Ardharaja.

Sayangnya, pada saat itu pemberontakan tetap terjadi dan tetap berhasil meruntuhkan Kerajaan Singasari dan mulailah berdiri Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 di bawah pemerintahan Raden Wijaya. Proses ini juga melibatkan kembali Arya wiraraja, anggota dari Kerajaan Singasari yang berada di Madura, yang sekaligus merupakan seorang negosiator dan ahli strategi perang dan politik. Saat itu Arya Wiraraja membantu Raden Wijaya untuk kembali membalas dendam kepada Jayakatwang, melalui pendekatan yang halus dengan alasan ingin mengabdi kepada Jayakatwang.

Cara ini berhasil memberi Raden Wijaya kesempatan untuk dapat kembali mendekatkan diri kepada Jayakatwang untuk membalas dendam. Bahkan Raden Wijaya mendapatkan tanah yang berupa Hutan Tarik, di sanalah tempat awal mula Kerajaan Majapahit didirikan. Adanya buah maja yang terasa pahit, dijadikan nama untuk Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya pada tahun 1293.

 Masa Kejayaan 

Masa kejayaannya didapatkan ketika kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bernama Hayam Wuruk. Kejayaan ditunjukkan dengan luasnya wilayah kekuasaan Majapahit yang hampir menguasai wilayah nusantara, bahkan melebihinya hingga ke malaysia, Singapura, dan sebagian Filipina. Selain itu juga pada masa ini terjadi hubungan-hubungan internasional yang dilakukan oleh Kerajaan Majapahit dengan Thailand, Kamboja, Vietnam, dan China.

Masa kejayaan itu berhasil bertahan hingga 39 tahun di bawah kepemimpinan hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Setelah sepeninggal Hayam Wuruk, kemunduran di Kerajaan Majapahit mulai terjadi. Kemunduran itu terjadi karena beberapa faktor, terutama konflik perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh pidak internal kerajaan. Konflik yang terjadi ialah perebutan kekuasaan antara putera Hayam wuruk dari selirnya, Bhre Wirabhumi, dengan keponakan hayam Wuruk, Wikramawardhana. Perebutan tersebut ditengarai rasa tidak terima Bhre Wirabhumi atas diangkatnya Wikramawardhana sebagai penerus ayahnya.

Kemudian terdapat faktor-faktor eksternal kerajaan yang mendukung kemerosotan Kerajaan Majapahit, hal itu ialah ada dan berkembangnya ajaran Islam di Pulau Jawa, banyak wilayah yang tidak bisa dicegah ketika melepaskan diri, adanya pengaruh dari Cina pada wilayah kekuasaan.

Akhirnya setelah terjadi kemunduran yang terus menerus, mereka resmi runtuh pada tahun 1389. Runtuhnya salah satu peradaban ini meninggalkan bukti-bukti sejarah yang dianggap sebagai peradaban yang sangat maju pada masa itu, banyak peninggalan candi, kitab-kitab, dan juga beberapa prasasti.

Mari Mengenal Sejarah Panglima Besar Indonesia Jenderal Soedirman

Mari Mengenal Sejarah Panglima Besar Indonesia Jenderal Soedirman – Indonesia sebagai negara bekas jajahan, memiliki banyak cerita inspiratif mengenai pahlawan-pahlawan yang ikut berjuang di masa penjajahan, baik Belanda ataupun Jepang. Sebagai penikmat setelah kemerdekaan, kita semnua patut mengenal, setidaknya mengetahui tentang bagaimana cerita, sejarah, dan perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan di masa itu. Kali ini akan dijabarkan sejarah tentang Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Jenderal Soedirman lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di Purbalingga. Memiliki nama asli Raden Soedirman. Beliau lahir dari orang tua yang bernama Tjokrosunarjo dan Toeridowati. Orang tua Soedirman merupakan seorang asisten wedana di Bodas, Karangjati. Walaupun beliau lahir di keluarga yang berada, kebiasaan yang mandiri dan kedisiplinan sudah tertanam pada diri Soedirman sejak kecil. Kedisiplinannya itulah yang membuat karir hidupnya meningkat dengan baik dan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pendidikan pertama yang ditempuh oleh Soedirman adalah bersekolah di Tamansiswa, kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah untuk guru (HIK) Muhammadiyah di Surakarta, namun tidak diselesaikan.

Perjalanan kariernya bermula dari menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Sebagai seorang guru, beliau juga menunjukkan kedisiplinan yang diajarkan kepada siswa melalui keikutsertaannya dalam memimpin organisasi kegiatan pramuka Hizbul Wathan di tempat yang sama. Setelah itu terjadilah penjajahan yang dilakukan oleh Jepang pada tahun 1942, yang membuat Soedirman yang telah menjadi seorang guru terpanggil dan memulai karier militernya.

Karier militer Soedirman dimulai ketika beliau ikut serta untuk menjadi anggota PETA di Bogor pada tahun 1943. Setelah pendidikannya, beliau mendapatkan jabatan berupa Daidancho atau Komandan Batalyon PETA. Jabatan itu diperoleh karena kemampuan dirinya dan juga karena banyak dikenal serta dihormati oleh masyarakat. Beliau bertugas di Batalyon Kroya, Banyumas.

Ketika beliau menjabat sebagai komandan, terjadi perpmberontakan terhadap Jepang yang membuat Soedirman dipindahkan ke Bogor dengan alasan akan melakukan pelatihan, padahal, pemindahannya itu dilakukan agar tidak terjadi pemberontakan lebih lanjut di Banyumas. Namun karena adanya serangan ke Hiroshima dan Nagasaki, juga melemahnya perlawanan Jepang, Soedirman dapat kembali melepaskan diri dan kembali ke batalyon. Sayangnya, tempatnya bertugas telah dibubarkan.

Kemudian setelah itu, Soedirman mendirikan BKR di Banyumas dengan taruna-taruna lain di sana dan berhasil memukul mundur pasukan Jepang serta melucuti senjata pasukan Jepang. Senjata hasil sitaan tersebut diambil alih dan digunakan sebagai pendukung selama peperangan.

Oleh Soekarno, pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR digantikan oleh TKR dan Soedirman termasuk menjadi anggota di dalamnya karena beliau ialah anggota BKR. Pada awalnya yang diajukan sebagai Komandan untuk memimpin TKR ialah Soeprijadi, namun beliau tidak datang, kemudian yang diusulkan sebagai pengganti ialah Letjen Oerip Soemohardjo. Namun para komandan yang ikut serta mengadakan pemilihan menggunakan suara terbanyak, dan terpilihlah Soedirman sebagai Pemimpin TKR.

Namun karena latar belakangnya yang hanya seorang guru, beliau disepelekan dan tidak dipercaya untuk memimpin TKR. Sambil menunggu pengangkatannya sebagai pemimpin TKR, beliau kembali ke Banyumas dan memerintahkan Divisi 5 untuk menyerang tentara sekutu di Ambarawa dengan dipimpin oleh Isdiman. Serangan tersebut berhasil memukul mundur pasukan sekutu ke Semarang, naum sayangnya Isdiman tewas dan Soedirman memipin serangan selama 4 hari di Semarang. Karena keberhasilannya itulah nama Soedirman mulai muncul ke kancah nasional kemudian mulai dipercaya untuk menjadi pemimpin TKR.

Pada tanggal 18 Agustus 1945 Soedirman mendapat jabatan sebagai Panglima Besar TKR. Lalu pada tanggal 3 Juni 1947 TKR diresmikan menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang berisi para anggota TKR dan berbagai kelompok laskar lain yang sudah terorganisasi.

Terjadilah Agresi Militer Belanda yang ingin mengambil alih Yogyakarta, kemudian Soedirman memilih strategi perang gerilya sebagai taktik yang cocok untuk melawan Belanda. Dilakukanlah perang gerilya yang dipimpin oleh Soedirman, mulai dari Yogyakarta  menuju Kota-Kota di Jawa Timur. Jenderal Soedirman memimpin dan melakukan perang gerilya ketika beliau mengalami sakit parah, sehingga beliau diangkat menggunakan tandu selama berpindah-pindah.

Hingga pada akhirnya Belanda menyerah dan meninggalkan Yogyakarta, baru setelah itu Jenderal Soedirman mau kembali ke Yogyakarta. Setelah itu beliau melakukan perawatan kembali atas penyakitnya di Panti Rapih Yogyakarta, dan dipindahkan ke sanatorium di daerah Pakem, dan beliau pulang ke rumah di Magelang hingga kematiannya.

Jenderal Soedirman meninggal pada 29 Januari 1950 di Magelang, kemudian di makamkan di Makam Pahlawan di Yogyakarta. Pemakamannnya dihadiri oleh menteri-menteri, konvoi oleh Brigade IX, ratusan pelayat, dan ribuan rakyat yang melihatnya di sisi kanan dan kiri jalan dari Magelang menuju pemakaman Yogyakarta.

Cerita Pengasingan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru

Cerita Pengasingan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru – Pramoedya Ananta Toer ialah penulis terkenal yang dimiliki oleh Indonesia. Karyanya berhasil melanglang buana ke luar negeri, bahkan beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa lain. Karena itu juga ia dianggap sebagai penulis yang termasuk produktif pada masa itu.

Diasingkan sebagai Tahanan Politik

Pramoedya Ananta Toer yang dikenal sebagai seorang penulis ini ternyata diketahui bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA). Pada tahun 1965 keadaan sedang kacau dikarenakan adanya isu kaum kiri yang ditentang oleh pemerintah. Karena itulah Pram, sapaan akrabnya, ikut serta ditangkap oleh pemeritah sebagai tahanan politik dan diasingkan ke Pulau Buru.

Ia diasingkan selama 14 tahun, bersama dengan tapol lainnya yang divonis memiliki pemikiran komunis. Ia ditetapkan sebagai tahanan dengan golongan B, yang hingga tahun kebebasannya tidak diadili karena tidak ditemukan bukti bahwa ia adalah seorang komunis.

Selama itulah Pram membuat karya-karya yang luar biasa. Proses pembuatan karya yang luar biasa tersebut juga memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang besar serta banyak rintangan yang menyertai. Beberapa kali ia kesulitan memeroleh kertas untuk digunakan menulis, juga penjagaan dari pihak pemerintah yang sempat menyembunyikan dan menyita beberapa tulisan yang sudah selesai sebelumnya. Walaupun begitu, Pram tetap dengan sabar berusaha dan menulis kembali tulisan-tulisannya yang rusak.

Karya-Karyanya Tak Boleh Terbit di Indonesia

Setelah kebebasannya, karya Pramoedya Ananta Toer dicekal oleh pemerintah Indonesia. Karyanya tidak bisa beredar secara bebas di Indonesia karena dianggap mengandung ajaran Komunis, Marxisme, dan Leninnisme. Namun walaupun begitu, karya-karyanya beredar dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di luar negeri.

Buku-buku yang akhirnya bisa terbit di Indonesia yaitu Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1981), sedangkan dua buku lain dari Tetralogi Pulau Buru, Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988) dilarang langsung oleh Kejaksaan Agung setelah beberapa bulan terbit.

Mengapa Tetralogi Pulau Buru Dilarang?

Isi sebenarnya dari empat karya agung yang disebut Tetralogi Pulau Buru (The Buru Quartet) adalah cerita tentang perjalanan hidup seorang Raden Tirto Adhi Soerjo, atau disebut juga Minke. Buku-buku tersebut bercerita tentang bagaimana seorang bangsawan yang pada masa itu memperjuangkan hak hidupnya dengan bebas, tidak terikat dengan penjajah. Cerita-cerita yang terdapat di dalam buku itu juga berisi tentang sejarah yang terjadi di lingkungan penulis, mengenai banyak hal yang menunjukkan bahwa perjuangan menjadi bangsa Indonesia itu tidak mudah, termasuk sejarah peradilan pertama pribumi Indonesia melawan kaum Belanda (Nyai Ontosoroh) di Surabaya.

Kisah-kisah tersebut dianggap kelam dan mencoreng, berisi cerita pribumi yang mengalami penindasan, ketidakadilan, kecurangan, pejabat-pejabat penjilat, dan masih banyak lagi, karena itulah buku Tetralogi Pulau Buru dilarang peredarannya di Indonesia.

Kebebasan Muncul

Setelah kebebasannya, banyak orang mendukung karya-karya luar biasa Pram. Pada awal meninggalnya orde baru,buku-buku tetralogi itu kembali dicetak secara lengkap oleh Hasta Mitra. Keempat karya tersebut kemudian dapat dibaca oleh rakyat secara bebas tanpa adanya larangan dari pemerintah.

Bahkan pada tahun 2000-an karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu masih laris dibaca dengan bukti masih terjual hingga 10.000 eksemplar. Lagipula pada beberapa tahun lalu, Bumi Manusia telah difilmkan oleh Sutradara Hanung Bramantyo. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa  pengasingan Pramoedya Ananta Toer  berbuah manis. Tidak ada lagi larangan dan pencekalan terhadap karya-karya luar biasa yang diciptakan ketika berada dalam pengasingan di Pulau Buru.

Sejarah Pahlawan Daan Mogot yang Jarang Diketahui

Sejarah Pahlawan Daan Mogot yang Jarang Diketahui – Daan Mogot dikenal sebagai nama sebuah jalan di Ibukota Jakarta, tepatnya di Kelurahan Cengkareng, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta. Sebetulnya, nama Daan Mogot merupakan nama dari seorang pahlawan yang bernama Elias Daniel Mogot atau biasa dipanggil Daan Mogot.

Putra Manado

Ia lahir pada tanggal 28 Desember 1928 di Manado, Sulawesi Utara. Lahir dari kedua orang tua yang bernama Nicolaas Mogot dan Emilia Mien Inkiriwang, dirinya  merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah seorang Hakim Besar Ratahan, hal ini berarti bahwa beliau memiliki darah pejabat yang berjiwa pemimpin.

Awal Mula Karier Militer

Pada awal usia remajanya, beliau memulai karier militernya di Seinen Dojo (Pelatihan Pemuda). Pendidikan angkatan pertama di Seinen Dojo diselesaikan oleh olehnya pada tahun 1943, bersama 4 orang lainnya, yaitu Kemal Idris, Julkifli Lubis, Yono Suwoyo, dan Supriyadi. Dengan latar belakang dan kemampuannya yang mumpuni, beliau terpilih dan masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air). Ia mendapatkan semua itu ketika masih berusia 14 tahun, hal ini merupakan sebuah prestasi karena pada umumnya anggota PETA berusia 18 tahun.

Cerita Hidup 

Atas prestasi yang diraihnya itu, beliau dijadikan Komandan Pleton Shodancho PETA di Bali pada tahun 1943 hingga 1944. Karier selanjutnya ialah menjadi anggota BKR (Badan Keamanan Rakyat). Selama menjadi anggota BKR, Pahlawan Daan Mogot memiliki pangkat sebagai mayor. Sebagai Mayor, ia bekerja di bawah kepemimpinan Komandan Moeffreni Moe’min. Saat itu usianya masih 16 tahun.

Kemudian pada masa itu terjadi pergantian nama BKR menjadi TKR. Pergantian nama tersebut juga telah diumumkan oleh Presiden Soekarno. Pergantian tersebut secara tidak langsung membuat para anggota BKR masuk secara otomatis menjadi anggota TKR. Hal ini membuat Mayor Daan Mogot secara otomatis pula menjadi anggota TKR. Walaupun tidak ada surat perintah dan semacamnya, semua anggota BKR melebur menjadi anggota TKR seperti nama BKR. Peristiwa pergantian tersebut terjadi pada tanggal 5 Oktober 1945, beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Perjalanan karier lainnya yang jarang diketahui oleh masyarakat luas ialah beliau dipercaya sebagai direktur di Akademi Militer Tangerang. Beliau bekerja sebagau direktur di bawah pimpinan Letnan Kolonel Singgih, dalam kekuasaan Resimen IV Tangerang.

Peran Pahlawan Daan Mogot untuk bangsa Indonesia

Selama hidupnya sebagai pahlawan militer, Daan Mogot telah melaksanakan hal-hal yang sangat berarti untuk Indonesia, perannya ialah:

  1. Berhasil mengirimkan anggota untuk pengawalan bahan makanan untuk RAPWI di Jawa.
  2. Menyelesaikan dan membawa tugas untuk mengurus APWI yang banyak terdapat di Jawa.
  3. Telah berhasil memerintahkan perwira MAT untuk mengawal sebuah pameran di Jakarta.
  4. Penumpasan pemberontakan ubel-ubel. Mayor Daan Mogot berhasil mengembalikan kekuasaan RI ke Tangerang.
  5. Memimpin pelucutan senjata milik Jepang di Lengkong, Tangerang.

Terlihat dari beberapa peran yang telah berhasil dilaksanakan oleh Pahlawan Daan Mogot bahwa beliau merupakan seorang pribadi yang bertanggung jawab dan konsisten dalam melakukan peperangan terhadap penjajah dan pemberontakan. Semangat patriotisme dan jiwa pemimpin yang mendarah daging dari keluarganya terwujud dalam peranan yang dilakukan demi Bangsa Indonesia.

Akhir Perjalanan Karier Pahlawan Daan Mogot

Sesuai dengan semangat hidupnya, Daan Mogot memiliki sebuah keinginan yang sempat disampaikan kepada saudara sepupunya, Alex Kawilarang. Keinginannya ialah melatih para perwira republik. Keinginan inilah yang menjadi salah satu cerita dan latar belakang berdirinya Akademi Militer Tangerang.

Pahlawan Daan Mogot sempat menjadi direktur di Akademi Militer tersebut walaupun tidak lama. Beliau juga sempat bekerja di bawah pimpinan Letkol Singgih dalam kekuasaan Resimen IV.

Cerita akhir perjalanan hidupnya pun begitu menyedihkan, beliau gugur ketika dirinya ingin menjelaskan sebuah kesalahpahaman terhadap tentara Jepang. Daan Mogot gugur ketika memimpin pelucutan senjata milik Jepang di Lengkong. Peristiwa itulah yang dikenal sebagai Peristiwa Lengkong.

Pada tanggal 25 Januari 1946, beliau gugur bersama 37 taruna lain, serta 35 taruna lain ditahan. Para taruna yang gugur termasuk Daan Mogot dikebumikan di Kompleks Markas Resimen IV Tangerang atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Taman Makam Pahlawan Taruna di Jalan Daan Mogot, Jakarta.

Sejarah Lengkap Pahlawan Indonesia Presiden Soekarno

Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya – berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat – menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

Latar belakang dan pendidikan

Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali

Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).

Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Masa pergerakan nasional

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Masa penjajahan Jepang
Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno diantara Pemimpin Dunia

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.

Masa Perang Revolusi

Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah

peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

Masa kemerdekaan

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai “kabinet seumur jagung” membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai “penyakit kepartaian”. Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.

Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat “bom waktu” yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.

Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia “bercerai” dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat “memenuhi” cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Sakit hingga meninggal

Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya Soeharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.

Peninggalan

Pada tanggal 19 Juni 2008, Pemerintah Kuba menerbitkan perangko yang bergambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro. Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan “kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba”.

Penamaan

Nama lengkap Soekarno ketika lahir adalah Kusno Sosrodihardjo. Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Sebutan akrab untuk Ir. Soekarno adalah Bung Karno.

Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, “Siapa nama kecil Soekarno?” karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga. Entah bagaimana, seseorang lalu menambahkan nama Achmed di depan nama Soekarno. Hal ini pun terjadi di beberapa Wikipedia, seperti wikipedia bahasa Ceko, bahasa Wales, bahasa Denmark, bahasa Jerman, dan bahasa Spanyol.

Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed di dapatnya ketika menunaikan ibadah haji.

Dan dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab. (Wikipedia)

http://206.189.145.117/

Situs Togel

Prediksi Togel

Togel Terpercaya

Bandar Toto Togel Online

Daftar Bandar Togel

Toto Togel Terpercaya

Togel Slot Gacor

Agen Judi Slot88 Online Gacor Terpercaya

Togel Online

Situs Togel

Cara Daftar Togel Online

Situs Toto HK 6D Terbesar Dan Terpercaya

Daftar BO Togel Terpercaya

Daftar Bandar Togel Terpercaya Hadiah 4d 9,9 Juta > Coloktoto

situs togel toto macau terpercaya

Situs Toto Togel Terpercaya

situs togel toto terpercaya daftar togel resmi

Agen togel resmi